oleh

Akibat Bicara Sembarangan Di Medsos Rumahnya Dikepung Orang

Lampung.swaradesa.com. Chelvin Yudha Tama, anak muda yang diduga telah memposting ujaran kebencian bencana tsunami, menghilang dari rumahnya. Aparat kepolisian tengah mencari keberadaannya.

Mahasiswa Fakultas Hukum Unila itu sempat hendak kabur ke Jakarta. Orangtuanya sedang menyusulnya. Kamis malam (27/12), diharapkan, pemuda tersebut diserahkan orangtuanya kepada aparat kepolisian.

Petugas Polsek Tanjungkarang Barat, Kota Bandarlampung telah berkoordinasi dengan orang tua pemuda tersebut, Kamis (27/12). Mereka berjanji akan menyerahkan anaknya kepada aparat penegak hukum.

Kapolsek Tanjungkarang Barat Kompol Harvan Rambang mengatakan polisi sudah berkoordinasi dengan orangtua pelaku untuk mencari keberadaan dugaan hatespeech terhadap bencana tsunami.

Suasana rumah pelakud sudaoh kondusif di Kompleks Perumahan Wisma Mas, Sumber Rejo, Kemiling, Kota Bandarlampung, sudah kondusif. Seharian, masyarakat bergantian menyambangi rumah Chelvin.

Baca Juga  Jelang Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Jombang terpilih, Muncul Surat Edaran Yang Meminta Para Kades Untuk ‘Setor’ Tumpeng Saat Acara Tasyakuran Yang Akan di Gelar

Bahkan, ada warga yang datang dari Kampung Waymuli, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, kampung yang paling parah diterjang gelombang tsunami, Sabtu malam lalu (22/12).

Sebelumnya, Chalvin live streaming agar tak usah membantu warga yang terkena tsunami.

“Donasi untuk Kalianda, gua enggak mau. Pokoknya Kalianda harus kena tsunami. Woy kawan-kawan jangan kalian donasi untuk Kalianda ya, biarin aja dia orang rata ya,” ujar Chelvin Yudha Tama, anak muda itu.

Dalam sekejap, live streaming lewat media sosial instagram, atas nama @kelvinyudatama itu viral dan memicu kemarahan banyak pihak. Pada live streaming, Kelvin bersama seorang wanita di dalam mobil.

Chelvin sudah minta maaf lewat media sosial. Namun, banyak yang menilai pemuda tersebut harus tetap mempertanggungjawabkan ucapan bernada kebencian tersebut.

Baca Juga  Pihak Kepolisian di Minta Agar Secepatnya Menangkap dan Memproses Sekelompok Orang Yang Membakar Gapura Desa Karang Harum

Sangat memprihatinkan, di tengah bencana nasional, ada anak muda yang asal nguap,” ujar Hari Kohar, koordinator Forum Masyarakat Transparasi Lampung (FMTL) kepada Kantor Berita RMOL, Kamis (27/12).

Menurut Hari Kohar, hatespech yang semberono dan melukai hati nurani setiap orang itu harus ada pertanggungjawabannya. “Apalagi sekarang sudah ada UU IT, kita tak boleh sembarangan mengucapkan ujaran kebencian,” katanya.

Meski sudah menghapus dan mengunggah permintaan maaf, Chelvin Yudha Tama harus bertanggungjawab terhadap publikasi pernyataan hatespeech-nya, kata Hari Kohar.

Dia berharap aparat kepolisian mengusut dan meminta pertanggungjawaban yang bersangkutan. “Bukannya peduli malah ujuk-ujuk statemen lewat media sosial ucapan yang tak manusiawi,” katanya. (Hm/Red)

Author: Yusup Prayoga

Komentar